MENGHITUNG TINGGI DAN SISI MIRING PIRAMIDA
Saat masih belajar di SD dulu, kita sering diajari tentang
Pythagoras dan “Segitiga Pythagoras”. Sebuah segitiga siku-siku yang
salah satu sisinya sepanjang 2 satuan dan sisi lainnya sepanjang 3
satuan, pasti akan punya sisi panjang dengan ukuran 5 satuan. Dari satu
contoh ini, kita juga bisa menghitung panjang sisi miring semua segitiga
siku-siku hanya dengan menjumlahkan kwadrat kedua sisi yang lain dan
menarik akar dari penjumlahan tersebut.
Phytagoras sudah tahu tentang luas sisi miring ini sejak 2500 tahun
yang lalu. Tapi tahukah anda bahwa ia memperoleh pengetahuan itu dari
orang Mesir Kuno? Saat masih muda, Pythagoras berguru kepada Thales
(salah satu orang paling bijaksana di Athena), dan sang guru menyarankan
Phytagoras muda pergi ke Mesir untuk belajar matematika.
Dari pengamatan Pythagoras melihat orang-orang Mesir menggunakan
mistar dan tali pembanding untuk menghitung tinggi bangunan – maka ia
terinspirasi untuk membuat hukum matematika untuk menghitung tinggi dan
sisi miring segitiga siku-siku. Dari kunjungan ke Mesir itulah
Pythagoras lalu memperkenalkan prinsip yang kita kenal dengan hukum
Pythagoras, yang tentu saja berguna bukan hanya untuk mengukur tinggi
piramid atau obelisk, tetapi juga untuk mengukur tinggi dan jarak hampir
segala sesuatu di bumi, termasuk ketika modifikasi dari hukum
Pythagoras ini digunakan untuk oleh Eratosthenes untuk mengukur lingkar
bumi. Hasil hitungannya hanya terpaut 40 km, dari hasil perhitungan
modern…!
Tanpa orang Mesir repot-repot membangun Piramida dan Obelisk, tentu
tidak ada kepentingan untuk mencari hukum matematika yang diperlukan
untuk menghitung benda-benda tinggi.
Tanpa Mesir Kuno, tidak ada segitiga Pythagoras.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar